WONOSOBO – Desa Gondang, Kabupaten Wonosobo, tengah menunjukkan potensi luar biasa melalui produk unggulannya, yakni keripik Sunda berbahan dasar talas. Tanaman talas yang selama ini melimpah dengan produksi hingga 400 ton per tahun, kini tak lagi bernilai jual rendah setelah diolah menjadi camilan gurih dan renyah.
Produk ini menjadi sumber penghasilan baru, bagi ibu-ibu rumah tangga setempat yang tergabung dalam Industri Rumah Tangga (IRT) Keripik Sunda. Namun, tantangan besar muncul ketika permintaan pasar terus meningkat, sementara kapasitas produksi masih terbatas karena metode produksi yang serba manual.
Menjawab persoalan tersebut, tim pengabdian dari Politeknik Negeri Semarang (Polines) hadir memberikan solusi melalui penerapan konsep lean production. Program ini menghadirkan teknologi tepat guna berupa mesin perajang talas dan mesin spinner pulling oil untuk mempercepat proses produksi sekaligus meningkatkan kualitas keripik.
“Dengan teknologi ini, kapasitas produksi yang sebelumnya hanya 10 kilogram per hari berhasil ditingkatkan hingga 20 kilogram per hari, sekaligus menekan pemborosan bahan baku. Selain modernisasi produksi, aspek kesehatan kerja juga menjadi perhatian utama,” kata Dosen Polines, Wahyu Isti Nugroho.
Ia mengatakan, tim pengabdian memperkenalkan peralatan berbahan food grade yang lebih aman. Termasuk, tata cara sanitasi lingkungan produksi sesuai standar Good Manufacturing Practices.
Menurutnya, upaya ini tidak hanya menciptakan produk yang lebih higienis dan sehat, tetapi juga melindungi pekerja dari risiko kecelakaan maupun paparan bahan berbahaya di tempat kerja. Tak kalah penting, penguatan manajemen keuangan juga dilakukan melalui digitalisasi pencatatan arus kas.
Ibu-ibu pelaku usaha dilatih menggunakan aplikasi sederhana untuk mencatat pemasukan dan pengeluaran secara real-time. Dengan begitu, pengelolaan usaha menjadi lebih transparan, terukur, dan siap bersaing di pasar yang lebih luas.
“Transformasi ini sekaligus meningkatkan literasi digital di kalangan perempuan desa, yang sebelumnya masih terbatas pada penggunaan media sosial,” jelasnya melalui siaran pers, Senin (22/9/2025). Program pemberdayaan yang dijalankan sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya pengentasan kemiskinan, kesetaraan gender, serta kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.
Keberhasilan IRT Keripik Sunda Wonosobo ini diharapkan dapat menjadi model inspiratif bagi desa-desa lain. Kombinasi teknologi tepat guna, manajemen modern, dan pemberdayaan perempuan mampu melahirkan kemandirian ekonomi sekaligus mengangkat potensi lokal ke tingkat yang lebih tinggi.
Atas terlaksananya program ini, tim pengabdian dan mitra mengapresiasi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemendiktisaintek) melalui dukungan Pengabdian Masyarakat Program Kemitraan Masyarakat (PKM) Tahun Anggaran 2025. Kemendiktisaintek telah memberikan kesempatan dan pendanaan sehingga kegiatan dapat berjalan sukses.
Sumber : rri.co.id

