POLINES dan KEK Kendal Gelar Workshop Multi-Sektor untuk Wujudkan Ekosistem Vokasi Berstandar Global

Kendal, 15 April 2026  —  Politeknik Negeri Semarang (POLINES) bersama Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kendal menyelenggarakan Workshop Penguatan Kemitraan Strategis: Sinergi Multi-Sektor dalam Mewujudkan Ekosistem Vokasi Berstandar Global di KEK Kendal, Rabu (15/4). Kegiatan ini menjadi tonggak penting dalam upaya memperkuat kolaborasi antara dunia pendidikan vokasi, pemerintah daerah, kawasan industri, dan mitra internasional.

Workshop dibuka secara resmi oleh Direktur POLINES, Dr. Garup Lambang Goro, S.T., M.T., yang dalam sambutannya menegaskan bahwa kemitraan dengan KEK Kendal bukan sekadar kerja sama administratif, melainkan komitmen jangka panjang untuk menempatkan lulusan vokasi Indonesia di lingkungan industri berstandar ekspor internasional.

Forum ini menghadirkan empat narasumber dari domain berbeda yang saling melengkapi. Puput Handayani, Head of HR PT Kawasan Industri Kendal (KIK), memaparkan peta kebutuhan tenaga kerja KEK Kendal tahun 2026, mulai dari kualifikasi yang paling dibutuhkan, standar kompetensi tenant multinasional, hingga jalur rekrutmen resmi yang terbuka bagi lulusan vokasi.

Dr. Ir. Kurnianingsih, S.T., M.T., Wakil Direktur Bidang Kerja Sama, Hubungan Masyarakat, dan Sistem Informasi POLINES, memaparkan program dan kesiapan POLINES dalam memenuhi kebutuhan tersebut, termasuk program magang MBKM, pengembangan kurikulum berbasis industri, microcredential, dan capaian kerja sama sejak penandatanganan MoU POLINES dan KIK pada April 2025.

Perspektif kebijakan disampaikan oleh Robberto Agung Nugroho, Kepala Bidang Pendidikan Menengah Kejuruan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah yang dalam hal ini diwakili oleh Andang Fitriadi yang bertugas sebagai Kepala Seksi (Kasi) SMK di Kantor Cabang Dinas (Cabdin) Pendidikan Wilayah II Provinsi Jawa Tengah yang menguraikan arah kebijakan vokasi Jawa Tengah dan pentingnya sinergi antara SMK, perguruan tinggi vokasi, dan kawasan industri strategis seperti KEK Kendal dalam menekan angka pengangguran terdidik.

Cakrawala diskusi diperluas oleh Wahyu Widyasari Sandhy, International Relation Manager HOPE Internasional, yang memperkenalkan program 2+1+1 dan 1+1+1 sebagai skema internasionalisasi vokasi, membuka jalur bagi mahasiswa POLINES untuk menempuh sebagian masa studi dan magang di luar negeri dengan standar kerja kelas dunia.

Momen bersejarah dalam workshop ini adalah penyerahan cinderamata sebagai simbolisasi komitmen kerja sama antara tiga pasang mitra: POLINES dengan KEK Kendal, POLINES dengan HOPE Internasional, serta Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah dengan Politeknik Industri Furniture dan Pengolahan Kayu. Prosesi ini dilaksanakan dalam satu forum yang sama, menegaskan bahwa ekosistem vokasi yang sedang dibangun bersifat multipihak, bukan bilateral semata.

Hadir dalam workshop ini antara lain Prof. Dr. Ir. Dwiana Hendrawati, S.T., M.T. (Wakil Direktur Bidang Akademik POLINES), jajaran struktural dan dosen POLINES. Sesi tanya jawab yang berlangsung lebih dari 45 menit mencerminkan antusiasme tinggi seluruh peserta. Diskusi menyentuh isu-isu konkret: jenis kompetensi teknis apa yang paling dibutuhkan tenant KEK Kendal dalam dua tahun ke depan, bagaimana POLINES dapat menyesuaikan kurikulum secara cepat dan terukur, serta model kolaborasi seperti apa yang paling efektif antara Dinas Pendidikan Jateng, SMK, dan perguruan tinggi vokasi.

Pilihan KEK Kendal sebagai lokasi workshop bukan tanpa makna. Sebagai kawasan ekonomi khusus berstandar internasional yang menampung lebih dari 90 perusahaan dari 32 negara dengan total investasi melampaui USD 2 miliar, KEK Kendal adalah representasi nyata dari kebutuhan SDM vokasi yang terbarukan dan berkelanjutan. POLINES yang berlokasi kurang dari 30 km dari kawasan ini, potensi kolaborasi jangka panjang antara keduanya dinilai strategis dan mutually beneficial.

Workshop ini merupakan bagian dari rangkaian implementasi MoU POLINES dan KIK yang ditandatangani akan pada 28 April 2025, dan menjadi bukti nyata bahwa kemitraan yang dibangun tidak berhenti pada seremonial penandatanganan, melainkan terus berkembang menjadi forum strategis yang melibatkan pemangku kepentingan lintas sektor.

Gulir ke Atas